Laporan Resmi Praktikum Biologi "Analisis Vegetasi"
I.
PENDAHULUAN ANALISIS
VEGETASI
1.1 Latar Belakang
Lingkungan merupakan hal yang paling penting untuk
dilindungi dan dijaga kelestariannya karena merupakan tempat dimana seluruh
makhluk hidup tinggal.Baik manusia, hewan maupun tumbuhan serta faktor biotik
dan abiotik sebagai pendukungnya.Terdapat berbagai ilmu yang mempelajari
tentang lingkungan dan salah satunya adalah ekologi.
Ekologi telah dikenal oleh manusia sejak lama sesuai
dengan sejarah peradaban manusia. Dalam hal ini bukan hanya manusia yang bisa
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, akan tetapi juga makhluk-makhluk
hidup lainnya. Interaksi antara setiap organisme dengan lingkungannya merupakan
proses yang tidak sederhana, melainkan suatu proses yang kompleks. Ekologi
sendiri merupakan suatu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya.
Tujuan ekologi adalah untuk memahami mekanisme yang
mengatur struktur dan fungsi suatu ekosistem. Untuk mengetahui sistem ekologi
pada suatu waktu tertentu, perlu diketahui organisme apa saja yang hidup ditempat
tertentu, bagaimana kepadatannya dan bagaimana hubungannya dengan banyak faktor
fisik dan kimia dilingkungan abiotik disekelilingnya.
Ilmu ekologi mempelajari segala hal yang berkaitan dengan
lingkungan, salah satunya adalah vegetasi.Vegetasi merupakan sekumpulan
tumbuh-tumbuhan yang terdiri dari beberapa jenis yang berbeda hidup bersama di
suatu tempat.Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang
erat baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan
organisme lainnya sehingga membentuk suatu sistem yang dinamis dan hidup.
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan
(komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Pengamatan parameter
vegetasi berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba.Suatu ekosistem
alamiah maupun binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen
biotik dan abiotik. Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu
komponen biotik yang menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang,
semak belukar dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah
dipengaruhi oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga
vegetasi yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan
hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan
drastis karena pengaruh anthropogenik.
Istilah ekologi juga berkaitan dengan komunitas dan
populasi. Populasi merupakan kumpulan individu dari jenis yang sama dalam suatu
daerah, maka komunitas merupakan kumpulan populasi dari berbagai jenis dalam
suatu daerah. Setiap dari satu jenis komunitas bisa saja terdapat berbagai
macam spesies. Dan tentunya jumlah spesies yang satu dengan yang lainnya dalam
suatu komunitas tidaklah sama. Bisa saja terdapat spesies yang lebih
mendominasi, bahkan terdapat pula jumlah spesies yang terlalu sedikit pada
komunitas tersebut.
Kurva spesies area dalam ekologi adalah grafik yang
menggambarkan hubungan antara jumlah jenis dengan ukuran kuadrat.Grafik itu
biasanya menunjukkan pola pertambahan jumlah jenis yang relative tajam pada
ukuran kuadrat kecil sampai pada suatu titik tertentu dan sesudah itu semakin
mendatar seiring dengan peningkatan ukuran kuadrat.Kurva spesies area ini dapat
digunakan untuk menentukan luas kuadrat tunggal minimum yang mewakili suatu
komunitas tumbuhan dari segi jenis penyusun. Dalam sampling ini ada tiga hal
yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh
dan teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Prinsip penentuan ukuran plot adalah plot dibuat dari
ukuran terkecil hingga pada ukuran terbesar dengan spesies yang bervariasi dari
satu plot ke plot yang lain sampai pada tidak ada lagi keanekaragaman spesies.
1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan analisis vegetasi ini adalah untuk
menerapkan teknik sampling metode kuadrat, mempelajari struktur, komposisi dan
distribusi populasi spesies vegetasi semak, herba dan rumput, menentukan jenis
spesies vegetasi yang sering muncul dan yang mendominasi pada suatu luasan
daerah tertentu.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya
terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat.Dalam
mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik diantara
sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya
sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari
susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat
tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan
oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis
tumbuhan, dominansi spesies, kerapatan nmaupun keadaan penutupan tajuknya perlu
diukur.(Natassa dkk, 2010).
Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya
terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang
menonjol.Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Contoh bentuk pertumbuhan
(growth form): termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu hijau berdaun
lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau
rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan
semak kerdil (Soetjipta, 1994).
Suatu wilayah berukuran luas atau besar, vegetasinya
terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol
sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi.Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri
atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah dan memperlihatkan pola distribusi
menurut ruang dan waktu. Tipe-tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan
tumbuhan dominan tau paling besar atau paling melimpah dan tumbuhan
karakteristik (Harjosuwarno, 1990)
Pengertian umum vegetasi adalah kumpulan beberapa
tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis dan hidup bersama pada suatu
tempat.Diantara individu-individu tersebut terdapat interaksi yang erat antara
tumbuh-tumbuhan itu sendiri maupun dengan binatang-binatang yang hidup dalam
vegetasi itu dan fakto-faktor lingkungan.(Marsono, 1977).
Kehadiran vegetasi pada suatu landskap akan memberikan
dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara
umum peranan vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan
keseimbangan karbon dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik,
kimia dan biologis tanah, pengaturan tata air tanah dan lain-lain.Meskipun
secara umum kehadiran vegetasi pada suatu area memberikan dampak positif,
tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada struktur dan komposisi vegetasi
yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh vegetasi secara umum akan
mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung struktur dan komposisi
tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut. Keragaman habitat
dengan daerah yang beragam dapat menampung spesies yang keragamannya lebih
besar di bandingkan habitat yang lebih seragam.Ukuran daerah yang luas dapat
menampung lebih besar spesies dibandingkan dengan daerah sempit.Beberapa
penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies
secara kasar adalah kuantitatif.Hewan dan tumbuhan cenderung menunjukkan
tingkat pertumbuhan yang lebih baik jika faktor.
Teknik sampling kuadrat merupakan suatu teknik survey
vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan, petak
contoh yang dibuat dalam teknik sampling ini bisa berupa petak tunggal atau
beberapa petak. Petak tunggal mungkin akan memberikan informasi yang baik bila
komunitas vegetasi yang ditelitibersifat homogen. Adapun petak-petak contoh
yang dibuat dapat diletakkan secara random atau beraturan sesuai dengan
prinsip-prinsip teknik sampling.Bentuk petak contoh yang dibuat tergantung pada
bentuk morfologis vegetasi dan efisiensi sampling pola penyebarannya.Sehubungan
dengan efisiensi sampling banyak studiyang dilakukan menunjukkan bahwa petak
bentuk segi empat memberikan datakomposisi vegetasi yang lebih akurat dibanding
petak berbentuk lingkaran, terutamabila sumbu panjang dari petak sejajar dengan
arah perubahan keadaan lingkunganatau habitat. Dalam pengambilan contoh
kuadrat, terdapat empat sifat yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan,
karena hal ini akan mempengaruhi data yang diperoleh dari sample. Keempat sifat
itu adalah (Odum, 1998):
-
Ukuran petak.
-
Bentuk petak.
-
Jumlah petak.
-
Cara meletakkan petak
dilapangan.
Metode
Kuadrat adalah salah satu metode dengan bentuk sampel dapat berupa segiempat
atau lingkaran dengan luas tertentu.Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi.
Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat
yang diperlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di
sebarkan di lakukanperhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan
dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas
kerapatan.Dari spesies yang ditemukan dari sejumlah kuadrat yang di buat
(Rahardjanto, 2001).
III.
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan
Percobaan dilaksanakan pada hari, pukul 10.40 s.d 12.20
WIB di Laboratorium Dasar, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran” Jawa Timur.
3.2 Alat dan bahan
3.2.1 Alat
- Alat
tulis dan alas untuk menulis
-
Kertas untuk mencatat data
dilapangan
-
Kamera
-
Buku kunci determinasi
- Kuadrat
kayu berukuran 1x1 m
3.2.2 Bahan
- Tanaman
di lapangan Agrowisata di fakultas pertanian UPN “VETERAN” JAWA TIMUR
3.3
Cara kerja
1.
Menyiapkan
tabel untuk mecatat data dilapangan sebagai berikut
Tabel data kelompok
Ukuran kuadrat : Kelompok :
No. Plot : Tanggal :
|
No
|
Nama Spesies
|
Nama Daerah
|
Jumlah
|
Keterangan
|
|
1
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
dst
|
|
|
|
|
2. Tiap
kelompok membuat dua buah tabel seperti diatas, untuk mencatat data pengamatan
ditempat teduh (1 plot) dan ditempat terbuka (1 plot).
3.
Mempelajari
dan mencatat keadaan cuaca saat
melakukan pengamatan
4.
Meletakkan
kuadrat/plot secara random pada habitat yang akan diteliti. Menghitung jumlah individu setiap
spesies yang ada dalam plot/kuadrat tersebut dan masukkan datanya ke tabel. Melakukan pengamatan ini
sebanyak dua kali pada tiap-tiap tempat teduh dan terbuka
5.
Mencatat
nama ilmiah maupun nama lokal setiap spesies yang dihitung. Bila nama spesies
belum diketahui, maka ambil contoh spesies tanaman tersebut dan beri tanda
dengan kertas label. Kumpulkan dan lakukan identifikasi dilaboraturium.
6.
Mendokumentasikan
spesies yang ditemukan dalam tiap plot dengan kamera.
7.
Setelah seluruh data
kelompok terkumpul, data-data tersebut kemudian disatukan dalam tabel data
kelas. Memuat tabel berikut untuk tiap
lokasi pengamatan
Tabel data kelas
Ukuran kuadrat : Tanggal :
Lokasi :
|
No
|
Nama spesies
|
Nama lokal
|
Jumlah spesies pada plot ke-
|
Jumlah total
|
Ket.
|
|||||||
|
|
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8. Membuat tabel perhitungan untuk
menghitung data yang sudah diperoleh pada tiap lokasi pengamatan
|
No
|
Nama
spesies
|
Jumlah individu
|
Frek
tiap spesies
|
Frek relative
|
Densitas
relatif
|
Nilai
penting
|
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
Dsb.
|
|
Total
|
Total
|
|
|
|
9.
Buatlah
tabel perhitungan untuk menghitung data yang sudah diperoleh pada tiap lokasi
pengamatan.
10. Membahas apakah terdapat perbedaan
vegetasi pada tempat teduh dan terbuka
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Pengamatan
Tabel data kelas hasil pengamatan analisis vegetasi
4.1.1 Tempat terang
Ukuran kuadrat :
1x1 m Tanggal
: 25 Oktober 2016
Lokasi
: Agrowisata Fakultas Pertanian Cuaca :Cerah berawan
|
No
|
Nama lokal
|
Nama spesies
|
Jumlah spesies pada
plot ke-
|
Jumlah total
|
|||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
||||
|
1
|
Rumput mutiara
|
Hedyotis carymbosa L
|
112
|
92
|
95
|
51
|
-
|
-
|
-
|
-
|
350
|
|
2
|
Jelatang
|
Urtica dioica
|
22
|
21
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
43
|
|
3
|
Rumput teki
|
Cyperus rotundus L
|
30
|
63
|
-
|
-
|
-
|
-
|
18
|
67
|
178
|
|
4
|
Meniran
|
Phylantus urinaria
|
24
|
29
|
5
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
63
|
|
5
|
Sidaguri
|
Sida rhombifolia
|
-
|
-
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
|
6
|
Bandotan
|
Ageratum conizoides
|
-
|
-
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
10
|
|
7
|
Pegagan
|
Centella anatica
|
-
|
-
|
-
|
10
|
-
|
-
|
56
|
19
|
85
|
|
8
|
Sambiloto
|
Andragraphis paniculata
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
|
9
|
Pepaya
|
Carica papaya
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
2
|
1
|
4
|
|
|
10
|
Brotowali
|
Tinospora rispa
|
-
|
-
|
-
|
-
|
94
|
-
|
-
|
-
|
94
|
|
11
|
Beluntas
|
Plucea indica L
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
6
|
-
|
-
|
6
|
|
12
|
Rumput kremah
|
Alternanthera sesillir L
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
8
|
-
|
-
|
8
|
|
13
|
Rumput jepang
|
Zoysia matreilla L
|
-
|
-
|
-
|
-
|
68
|
10
|
-
|
-
|
78
|
4.1.2 Tempat teduh
Ukuran
kuadrat : 1x1 m Tanggal : 25 Oktober
2016
Lokasi : Agrowisata Fakultas
Pertanian Cuaca :
Cerah berawan
|
No
|
Nama lokal
|
Nama spesies
|
Jumlah spesies pada
plot ke
|
Jumlah total
|
|||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
||||
|
1
|
Rumput mutiara
|
Hedyotis carymbosa L
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
93
|
|
2
|
Jelatang
|
Urtica dioica
|
21
|
25
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
46
|
|
3
|
Rumput teki
|
Cyperus rotundus L
|
10
|
11
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
21
|
|
4
|
Rumput bede
|
Brachiaria decumbens
|
-
|
-
|
5
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
11
|
|
5
|
Sintrong
|
Crassochephalum cepideades
|
-
|
-
|
9
|
35
|
-
|
-
|
-
|
-
|
44
|
|
6
|
Wedelia
|
Sphogneticola tribolata
|
-
|
-
|
3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3
|
|
7
|
Pegagan
|
Centella anatica
|
-
|
-
|
-
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
|
8
|
Rumput kremah
|
Alternanthera sesillis
|
-
|
-
|
-
|
-
|
110
|
38
|
-
|
-
|
148
|
|
9
|
Kunyit
|
Curcumae domesticae rhizom
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
1
|
|
10
|
Belimbing
|
Averho carambola
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
1
|
|
11
|
Serai
|
Cymboppogon citratus
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
-
|
-
|
1
|
|
12
|
Tanaman dollar
|
Zamiocukas zamifolia
|
-
|
-
|
-
|
-
|
--
|
1
|
-
|
-
|
1
|
|
13
|
Meniran
|
Phylantus urinaria
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
19
|
7
|
26
|
|
14
|
Kedelai
|
Glycine max
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
9
|
9
|
|
15
|
Jagung
|
Zae mays
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1
|
1
|
4.2
Perhitungan
4.2.1 Tempat terang
|
No
|
Nama Tanaman
|
Jumlah Individu
|
Frekuensi tiap spesies
|
Frekuensi Relatif
|
|
1
|
Rumput mutiara
|
350
|
4/8x100% = 50%
|
50%/375%x100% = 13,33%
|
|
2
|
Jelatang
|
43
|
2/8x100% = 25%
|
25%/375%x100% = 6,67%
|
|
3
|
Rumput teki
|
178
|
4/8x100% = 50%
|
50%/375%x100% = 13,33%
|
|
4
|
Meniran
|
63
|
4/8x100% = 50%
|
50%/375%x100% = 13,33%
|
|
5
|
Sidaguri
|
4
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/375%x100% = 3,33%
|
|
6
|
Bandotan
|
10
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/375%x100% = 3,33%
|
|
7
|
Pegagan
|
85
|
3/8x100% = 37,5%
|
37,5%/375%x100% = 10%
|
|
8
|
Sambiloto
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/375%x100% = 3,33%
|
|
9
|
Pepaya
|
4
|
3/8x100% = 37,5%
|
37,5%/375%x100% = 10%
|
|
10
|
Brotowali
|
94
|
1/8x100% = 12,5%
|
37,5%/375%x100% = 10%
|
|
11
|
Beluntas
|
6
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/375%x100% = 3,33%
|
|
12
|
Rumput kremah
|
8
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/375%x100% = 3,33%
|
|
13
|
Rumput jepang
|
78
|
2/8x100% = 25%
|
25%/375%x100% = 6,67%
|
|
No
|
Nama Tanaman
|
Jumlah individu
|
Densitas relatif
|
Nilai penting
|
|
1
|
Rumput mutiara
|
350
|
350/924x100% = 37,9%
|
37,9%+13,33% = 51,23%
|
|
2
|
Jelatang
|
43
|
43/924x100% = 4,65%
|
4,63%+6,67% = 11,32%
|
|
3
|
Rumput teki
|
178
|
178/924x100% = 19,26%
|
19,26%+13,33%= 32,59%
|
|
4
|
Meniran
|
63
|
63/924x100% = 6,81%
|
6,81%+13,33% = 20,14%
|
|
5
|
Sidaguri
|
4
|
4/924x100% = 0,43%
|
0,43%+3,33% = 3,76%
|
|
6
|
Bandotan
|
10
|
10/924x100% = 1,08%
|
1,08%+3,33% = 4,41%
|
|
7
|
Pegagan
|
85
|
19/924x100% = 2,05%
|
2,05%+10% = 12,05%
|
|
8
|
Sambiloto
|
1
|
1/924x100% = 0,108%
|
0,108%+3,33% = 3,438%
|
|
9
|
Pepaya
|
4
|
4/924x100% = 0,43%
|
0,43%+10% = 10,43%
|
|
10
|
Brotowali
|
94
|
94/924x100% = 10,17%
|
10,17%+10% = 20,17%
|
|
11
|
Beluntas
|
6
|
6/924x100% = 0,65%
|
0,65%+3,33% = 3,98%
|
|
12
|
Rumput kremah
|
8
|
8/924x100% = 0,86%
|
0,86%+3,33% = 4,19%
|
|
13
|
Rumput jepang
|
78
|
78/924x100% = 8,44%
|
8,44%+6,67% = 15,11%
|
4.2.2 Tempat teduh
|
No
|
Nama Tanaman
|
Jumlah Individu
|
Frek Tiap Spesies
|
Frekwensi Relatif
|
|
1
|
Rumput mutiara
|
93
|
3/8x100% = 37,5%
|
37,5%/287,5%x100% =
13,04%
|
|
2
|
Jelatang
|
46
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
3
|
Rumput teki
|
21
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
4
|
Rumput bede
|
11
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
5
|
Sintrong
|
44
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
6
|
Wedelia
|
3
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
7
|
Pegagan
|
4
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
8
|
Rumput kremah
|
148
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
9
|
Kunyit
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
10
|
Belimbing
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
11
|
Serai
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
12
|
Tanaman dollar
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
13
|
Meniran
|
26
|
2/8x100% = 25%
|
25%/287,5%x100% = 8,7%
|
|
14
|
Kedelai
|
9
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
15
|
Jagung
|
1
|
1/8x100% = 12,5%
|
12,5%/287,5%x100% =
4,34%
|
|
No
|
Nama Tanaman
|
Jumlah individu
|
Densitas relatif
|
Nilai penting
|
|
1
|
Rumput mutiara
|
93
|
93/410x100% = 22,7%
|
22,7%+13.04% = 35,74%
|
|
2
|
Jelatang
|
46
|
46/410x100% = 11,21%
|
11,21%+8,7% = 19,91%
|
|
3
|
Rumput teki
|
21
|
21/410x100% = 5,12%
|
5,12%+8,7% = 13,82%
|
|
4
|
Rumput bede
|
11
|
11/410x100% = 2,7%
|
2,7%+8,7% = 11,4%
|
|
5
|
Sintrong
|
44
|
44/410x100% = 10,7%
|
10,7%+8,7% = 19,4%
|
|
6
|
Wedelia
|
3
|
3/410x100% = 0,73%
|
0,73%+4,34% = 5,07%
|
|
7
|
Pegagan
|
4
|
4/410x100% = 0,1%
|
0,1%+4.34% = 4,44%
|
|
8
|
Rumput kremah
|
148
|
148/410x100% = 36,1%
|
36,1%+8,7% = 44,8%
|
|
9
|
Kunyit
|
1
|
1/410x100% = 0,24%
|
0,24%+4,34% = 4,56%
|
|
10
|
Belimbing
|
1
|
1/410x100% = 0,24%
|
0,24%+4,34% = 4,56%
|
|
11
|
Serai
|
1
|
1/410x100% = 0,24%
|
0,24%+4,34% = 4,56%
|
|
12
|
Tanaman dollar
|
1
|
1/410x100% = 0,24%
|
0,24%+4,34% = 4,56%
|
|
13
|
Meniran
|
26
|
26/410x100% = 6,34%
|
6,24%+8,7% = 15,04%
|
|
14
|
Kedelai
|
9
|
9/410x100% = 2,2%
|
2,2%+4,34% = 6,54%
|
|
15
|
Jagung
|
1
|
1/410x100% = 0,24%
|
0,24%+4,34% = 4,56%
|
4.3 Pembahasan
Praktikum kali ini mengenail analisis
vegetasi yang dilaksanakan di agrowisata fakultas pertanian UPN “Veteran” Jatim
pada hari selasa tanggal 25 oktober 2016 pukul 10.40 WIB dengan kondisi cerah berawan.
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mempraktikkan cara menganalisis
sesuatu vegetasi disutau lahan dengan baik.
Tiap kelompok mendapatkan satu kuadrat
kayu berukuran 1x1 m untuk dijadikan plot. Seperti yang telah diamati bahwa
masing-masing plot memiliki varietas atau tumbuhan yang berbeda dengan segala
aspek dan faktor lingkungan yang sama hanya saja dalam praktikum kali ini kita
membedakan varietas yang berada pada
tempat terang dan tempat teduh. Masing-masing tumbuhan didalam plot tersebut
dapat dipelajari susunan jenis dan struktur tumbuh-tumbuhan, ketahan terhadap
lingkungan, habitat, kerapatan dll.
Dari data yang diperoleh telah
menunjukkan dilahan yang diamati terdapat 13 jenis spesies dari tempat terang
dan 15 spesies ditempat teduh dari keseluruhan spesies yang ada di agrowisata
tersebut. Jumlah spesies yang paling banyak ditempat terang yaitu rumput
mutiara (Hedyotis carymbosa L)
sebanyak 350 spesies dan spesies yang paling sedikit yaitu pepaya (Carica papaya) sebanyak satu spesies. Total keseluruhan
tanaman yang diamati ditempat terang sebanyak 924 spesies. Sedangkan pada
tempat teduh spesies yang mendominasi yaitu rumput kremah (Alternanthera sesillis) sebanyak 148 spesies dan spesies yang
paling sedikit yaitu kunyit (Curcumae domesticae
rhizoma), belimbing (Averhoa
carambola), serai (Cymbopogan
citratus), tanaman dollar (Zamiocukas
urinaria) yang terakhir yaitu tanaman jagung (Zae mays)dengan banyak spesies masing-masing satu tumbuhan.
Sehingga dapat dilihat total keseluruhan spesies ditempat teduh yang diamati
sebanyak 410 spesies.
Dari data tersebut dapat diperoleh
frekwensi spesies terbesar dengan cara menghitung jumlah plot terdapatnya
spesies dibagi dengan jumlah plot keseluruhan yang diamati kemudian dikalikan
100% yaitu rumput mutiara (Hedyotis carymbosa L), rumput teki (Cyperus rotundus L),
meniran (Phylantus urinaria) dan frekwensi paling kecil ditempat terang
yaitu bandotan (Ageratum conizoides), sidoguri (Sida rhombifolia),
sambiloto (Andragraphis paniculata), beluntas (Plucea indica L)
dan rumput kremah (Alternanthera sesillis). Sedangkan pada tempat teduh
frekwensi tiap spesies terbesar yaitu rumput mutiara (Hedyotis
carymbosa L)
sebesar37,5% dan paling kecil yaitu wedelia (Sphogneticola tribolata),
pegagan (Centella anatica), kunyit (Curcumae domesticae rhizom),
belimbing (Averhoa carambola), serai (Cymboppogon citratus),
tanaman dollar (Zamiocukas zamifolia), kedelai ( (Glycine max)
dan jagung (Zae mays) yang masing-masing 12,5%.
Yang selanjutnya yaitu kita menemukan frekwensi
relatif tiap spesies dengan cara menghitung total frekwensi spesies A dibagi
dengan jumlah total frekwensi seluruh spesies kemudian dikalikan 100%.
Frekwensi relatif terbesar pada tempat terang adalah rumput mutiara (Hedyotis
carymbosa L),
rumput teki (Cyperus rotundus L), meniran (Phylantus urinaria)
sebesar 13,33% dan frekwensi relatif paling kecil yaitu sidoguri (Sida
rhombifolia), bandotan (Ageratum conizoides), beluntas (Plucea
indica L), rumput kremah (Alternanthera sesillis) yang masing-masing
sebesar 3,33%. Kemudian pada tempat gelap dapat dilihat frekwensi relatif
paling besar yaitu rumput mutiara (Hedyotis carymbosa L)
sebesar 13,04% sedangkan yang paling kecil yaitu tanaman wedelia, pegagan,
kunyit, belimning, serai, tanaman dollar, kedelai, jagung yang masing-masing
4,34%.
Yang selanjutnya yaitu menghitung
densitas relatif dengan cara membagi total cacah individu spesies A dengan
jumlah total cacah individu seluruh spesies dikalikan dengan 100%. Pada data
hasil pengamatan dapat dilihat densitas relatif tertinggi yaitu rumput mutiara
sebesar 37,91% dan terendah yaitu sambiloto sebesar 0,11% pada tempat terang.
sedangkan pada te,pat teduh densitas relatif terbesar adalah rumput mutiara
sebesar 22,7% sedangkan yang terendah yaitu pegagan sebesar 0,1%.
Perhitungan terakhir yaitu menjumlahkan
antara densitas relati dengan frekwensi relatif yang dinamakan nilai penting.
Pada tempat terang nilai penting tertinggi yaitu rumput mutiara sebesar 51,24%
sedangkan terkecil yaitu sambiloto 3,44%. Pada tempat teduh nilai penting
tertinggi yaitu rumput mutiara sebesar 35,74% dan yang paling rendah adalah
pegagan 4,4%
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun
kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan Analisis Vegetasi sebagai berikut :
1.
Bahwa setiap tempat memiliki kerapatan relatif yang berbeda yang dapat
dianalisis.
2.
Terdapat berbagai jenis vegetasi yang membuktikan bahwa tumbuhan tidak
dapat tumbuh sendiri.
3.
Vegetasi pada tempat terang berbeda dengan vegetasi tempat teduh,
dikarenakan adanya perbedaan intensitas cahaya yang diserap oleh tumbuhan,
tingkat pH tanah, kelembapan tanah dan faktor-faktor lingkungan yang lainnya.
4.
Pada praktikum kali ini tanaman vegetasi terbanyak terdapat pada tempat
teduh yaitu 15 spesies sedangkan pada tempat terang terdapat 13 spesies.
DAFTAR
PUSTAKA
Kwacy,I.2013. “Analisis Vegetasi” https://imma-kwacy.blogspot.co.id/2013/03/
analisis-vegetasi.htmml?m=1Diakses
pada 30 Oktober 2016.
Lathyris,
riyanti, 2010 “Laporan Analisis Vegetasi” https://riyantilathyris.
wordpress.com/2010/11/26/laporan-analisis-vegetasi/ Diakses pada 30 Oktober 2016.
Secuilmimpi, 2013 “Laporan Analisis
Vegetasi” https://secuilmimpi.blogspot.co. id
/2013/10/laporan-analisis-vegetasi.html?m=1Diakses
pada 30 Oktober 2016.
Ahraf,
bima, 2010 “Analisis Vegetasi dengan Metode Kuadrat” https://bimashraf..blogspot.co.id/2010/12/analisis-vegetasi-dengan-metode-kuadrat-html?m=1Diakses
pada 30 Oktober 2016
Piko casino | Online gambling in the USA | Card casino
BalasHapusPiko casino online casinos 메리트 카지노 are very popular among gamers for excellent online gambling experience. This is febcasino why, with all the 바카라 action and