Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Buncis (Phaseolus vulgari)
Buncis
(Phaseolus vulgari)
Buncis
merupakan tanaman sejenis polong-polongan atau leguminose. Bagian yang
dimanfaatkan dalam tanaman ini adalah bagian buah, biji dan daun yang digunakan
sebagai sayuran. Buncis berasal dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah,
kemudian tersebar ke belahan negara lain salah satunya Indonesia. Tanaman
buncis memiliki dua cara tumbuh yaitu tumbuh dengan cara merambat dan tumbuh
dengan posisi tegak. Tanaman buncis dapat mencapai ketinggian 60-70 cm jika
tumbuh dengan posisi tegak dan akan dapat tumbuh dengan ketinggian mancapai 3
meter jika tumbuh dengan cara merambat, yang tetntunya dibantu oleh tiang
rambat. Buncis tipe rambat juga diketahui akan memberi hasil yang lebih banyak
mengingat pertumbuhan cabang dan buku bunga buncis yang lebih banyak. Bunga
buncis biasanya berwarna putih dan dapat berubah menjadi keunguan ketika
dewasa.
Setiap
tanaman pasti memiliki hama yang menyerang. Hama ini dapat dikendalikan dengan
berbagai cara. Berikut hama dan penyakit pada tanaman buncis :
Hama :
1. Ulat
polong (Etiella zinckenella T)
Ulat
ini memiliki kepala hitam dengan tubuh berwarna pucat kemudian menjadi
kemerahan. Ulat polong ini berbentuk silinder dengan panjang ±15mm. Ulat ini
menyebabkan permukaan polong tampak diselubungi benang-benang putih yang
apabila disingkap dan nampak larva hama didalamnya. Pada kulit polong yang
terserang nampak adanya titik hitam/coklat tua bekas tempat masuknya hama.
Pengendalian
:
- Penanaman
serempak atau dengan selisih waktu kurang dari 30 hari
- Dilakukan
pergiliran tanaman dengan tanaman selain kacang-kacangan
- Menggunakan
obor untuk menarik perhatian ngengat, sehingga apabila ngengat mendekat
akan mati terbakar.
- Pemberantasan
secara kimia menggunakan insektisida dengan dosis yang dianjurkan
2. Lalat
kacang (Ophiomyaphaseoli atau Agromyzaphaseoli)
Lalat
kacang jantan memiliki tubuh dengan panjang 1,9mm sedangkan lalat kacang betina
memiliki tubuh dengan panjang 2,2mm. Sebagian besar tubuhnya berwarna hitam
mengkilap, kecuali sayap, antena dan kakai yang berwarna coklat muda. Telur lalat
kacang diletakkan pada daun muda. Larva lalat kacang ini berwarna putih krem,
tidak berkaki dan bagian kepalanya meruncing. Serangan lalat kacang ini
menyebabkan daun tanaman muda berbintik putih, kemudian menjadi kuning dengan
titik coklat di tengahnya. Akibat dari serangan hama ini adalah tanaman akan
menjadi latu, kering dan mati. Pada tanaman dewasa serangan ini menyebabkan
pertumbuhan yang tehambat.
Pengendalian
:
a. Melakukan
penanaman serentak memberi penutup jerami atau daun pisang.
b. Segera
mencabut, dibakar dan ditanam didalam tanah jika tanaman terserang secara
parah.
c. Jika
serangannya masih kecil setiap 20 hari disemprot sebanyak 2-3 kali pestisida
organik.
3.
Kumbang daun (Henosepilachna
signatipennis atau Epilachna
signapennis)
Hama
ini memiliki bentuk tubuh oval, berwarna merah atau coklat kekuningan, dengan
panjang antara 6mm-8mm. Telur kumbang daun berwarna kuning dan berbentuk oval. Fase
larva dan kumbang memakan daun-daunan. Serangan dari hama ini dapat menyebabkan
daun berlubang-lubang. Lubangan akan menjadi semakin besar sehingga tersisa
kerangkan atau tulang daun. Selain itu tanaman juga akan menjadi kerdil dengan
polong berukuran kecil.
Pengendalian
:
- Langsung dimatikan dengan
tangan ketika munculnya tanda adanya telur, larva dan kumbang
- Menggunakan pestisida organik
dengan bawang putih, jahe, cabe rawit, jeruk dan sambiloto
- Rotasi tanamn dengan tanaman
yang bukan inang hama kumbang daun
4.
Kutu daun (Aphis gossypii)
Hama
ini memiliki ciri-ciri berwarna hijau tua sampai hitam atau kuning kecoklatan. Hama
ini dapat menghasilkan embun madu sehingga sering dikerumuni oleh semut. Kutu daun
ini dapat merusak tanaman dengan cara menghisap cairan pada tanaman. Kutu daun
biasanya menyerang tanaman muda. Tanaman yang terserang hama ini akan menjadi
kerdil, dengan daun yang kering dan memilin.
Pengendalian
:
5.
Ulat jengkel semu (Plusia signata dan P. Chalcites)
Hama
ini memiliki tubuh dengan panjang ±2cm, berwarna hijau dengan garis samping
berwarna lebih muda. Ulat jengkal semu ini menyebabkan daun menggulung. Didalam
daun yang menggulung tersebut terdapat ulat jengkal semu yang dilindungi oleh
benang sutra dan kotoran. Daun yang terserang pada mulanya berlubang-lubang dan
hanya tersisa tulang daun saja
Pengendalian
:
- Sanitasi (pembersihan gulma
sebagai tempat hama)
- Penyemprotan dengan pestisida
organik





Komentar
Posting Komentar